LAMONGAN - Budidaya udang vanamei semakin diminati petambak Lamongan. Sebelumnya, budidaya udang jenis ini hanya di kawasan petambak tradisional seperti di Kecamatan Lamongan, Deket, Glagah, dan Karanggeneng. Namun kini sudah mulai merambah ke wilayah lain seperti Kecamatan Babat dan sekitarnya.
Berkembangnya usaha tambak dengan komoditi udang vanamei ini benar-benar menjadi penyelamat bagi para petambak. Sebab, produktivitas udang windu kian merosot. Ini disebabkan banyaknya serangan berbagai penyakit. Selain itu, budidaya udang putih asal Amerika Latin ini cenderung lebih mudah dan produktivitas yang tinggi. Pemasarannya juga mudah. (idi/wid)
Senin , 20 September 2010
Tampilkan postingan dengan label Radar Bojonegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar Bojonegoro. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 September 2010
Peternak Sapi Diminta Waspada Penyakit Surra
BLORA - Para peternak sapi diminta waspada pada penyakit surra pada sapi. Sebab, Blora merupakan daerah endemis penyakit tersebut. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan dengan jalan mengambil sampel darah sapi di Desa Gempolrejo Kecamatan Tunjungan, ditemukan lebih dari 30 persen sapi terindentifikasi penyakit surra. ''Saat itu kami mengambil sampel darah pada 428 sapi, yang terindentifikasi 34,8 persen,'' kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Suherman melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Reproduksi Bambang Susanto.
Menurut Bambang Susanto, penyakit surra adalah penyakit yang bersifat akut atau kronis. Penyebabnya parasit darah (trypanosome evansi) yang tersebar di daerah tropis atau non tropis. Pada infeksi kronis pada sapi diketahui sapi akan terlihat lesu, kurus, anemis dan adanya odema atau penimbunan cairan pada bagian dada sampai bawah perut. Infeki yang parah, kata dia, bisa mengakibatkan kelumpuhan pada sapi yang berakhir pada kematian. ''Kasus di lapangan banyak ditemui banyak yang akut tanpa gejala klinis. Ini harus diwaspadai karena banyak peternak yang tidak tahu,'' tambahnya.
Diagnosa untuk penyakit ini, lanjutnya, tidak hanya ditandai dengan gejala klinis seperto anemia, odema atau demam tinggi pada sapi, tapi juga berdasarkan penemuan parasit pada darah yang bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan darah. Wabah surra, terangnya, bisa menyebar karena bisa dibawa hewan carrier atau lalat dari jenis tabanidae yang oleh peternak sering disebut 'lalat bangkak'. Penularan terjadi sata lalat tersebut menggigit sapi yang berpenyakit kemudian menggigit sapi lain yang sehat. ''Resiko penularan lebih besar terjadi saat ternak dugembalakan secara bersama-sama,'' terangnya.
Karena itu, pihaknya mengaku terus melakukan sosialisasi pada pada peternak untuk terus menjaga kesehatan hewab ternaknya. Tentang penyakit surra juga terus diberitahukan pada warga. Untuk pengendalian, Bambang Susanto mengatakan dilakukan berdasarkan diagnose dan pengobatan. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan obat yang selama ini sudah digunakan. ''Yang lebih penting adalah cermat dan waspada sehingga ketika gejala ada langsung bisa diobati,'' tandasnya. (ono)
senin,20 september 2010
Menurut Bambang Susanto, penyakit surra adalah penyakit yang bersifat akut atau kronis. Penyebabnya parasit darah (trypanosome evansi) yang tersebar di daerah tropis atau non tropis. Pada infeksi kronis pada sapi diketahui sapi akan terlihat lesu, kurus, anemis dan adanya odema atau penimbunan cairan pada bagian dada sampai bawah perut. Infeki yang parah, kata dia, bisa mengakibatkan kelumpuhan pada sapi yang berakhir pada kematian. ''Kasus di lapangan banyak ditemui banyak yang akut tanpa gejala klinis. Ini harus diwaspadai karena banyak peternak yang tidak tahu,'' tambahnya.
Diagnosa untuk penyakit ini, lanjutnya, tidak hanya ditandai dengan gejala klinis seperto anemia, odema atau demam tinggi pada sapi, tapi juga berdasarkan penemuan parasit pada darah yang bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan darah. Wabah surra, terangnya, bisa menyebar karena bisa dibawa hewan carrier atau lalat dari jenis tabanidae yang oleh peternak sering disebut 'lalat bangkak'. Penularan terjadi sata lalat tersebut menggigit sapi yang berpenyakit kemudian menggigit sapi lain yang sehat. ''Resiko penularan lebih besar terjadi saat ternak dugembalakan secara bersama-sama,'' terangnya.
Karena itu, pihaknya mengaku terus melakukan sosialisasi pada pada peternak untuk terus menjaga kesehatan hewab ternaknya. Tentang penyakit surra juga terus diberitahukan pada warga. Untuk pengendalian, Bambang Susanto mengatakan dilakukan berdasarkan diagnose dan pengobatan. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan obat yang selama ini sudah digunakan. ''Yang lebih penting adalah cermat dan waspada sehingga ketika gejala ada langsung bisa diobati,'' tandasnya. (ono)
senin,20 september 2010
Hirup Pestisida, Petani Tewas
BOJONEGORO - Mat Hari, 50. Petani asal Dusun Barek Desa Ngadiluhur ini tewas setelah diduga keracunan karena tak tahan bau pestisida dari obat pertanian. Kejadian ini terjadi Sabtu lalu (18/9), saat korban melakukan penyemprotan pestisida di lahan pertanian padi miliknya di desa setempat.
Saat kejadian, petani lainnya memergoki korban pingsan di area persawahan. Merasa panik, korban dilarikan ke RSUD setempat, namun dalam perjalanan korban menghembuskan napas terakhirnya. Kejadian ini membuat warga setempat gempar, sebab sejumlah warga mendatangi ke lokasi kejadian.
Informasi dari kepolisian, kejadian ini berawal saat korban ke area persawahannya tak jauh dari rumahnya. Korban hendak menyemprot tanaman padi miliknya. Selain membawa alat penyemprotan, korban juga membawa dua botol obat pertanian.
Sesampai di area pertanian, korban lantas mencampur tiga botol obat pertanian tersebut. Dan dituangkan ke dalam tabung alat penyemprotan. Tak lama kemudian, korban mulai menyemprotkan obat pertanian tersebut ke padi miliknya.
Namun, nahasnya korban seketika mengalami pingsan. Kejadian ini pun diketahui oleh sejumlah teman petani yang juga tetangganya yakni Basuni, 45, Tamsir, 44, dan Ngatri, 45. Melihat kondisi korban lemas, sejumlah saksi dan warga setempat membawanya ke salah satu bidan Desa Ngadiluhur Kecamatan Balen.
Karena keadaan tidak memungkinkan, bidan desa menyarankan untuk membawanya ke RSUD setempat. Naas, dalam perjalanan menuju RSUD, korban yang mengenakan kaos putih dan celana pendek abu-abu ini menghembuskan napas terakhir. Akibatnya, korban kembali dibawa ke rumahnya di Desa Ngadiluhur.
''Dugaan kuat, korban petani ini meninggal akibat keracunan menghirup obat pertanian tersebut," kata Kasubag Binamitra Polres Bojonegoro, AKP MT Ariyadi.
Selain itu, kini peralatan penyemprotan diamankan petugas kepolisian sebagai barang bukti. (rij/nas)
Senin, 20 September 2010
Saat kejadian, petani lainnya memergoki korban pingsan di area persawahan. Merasa panik, korban dilarikan ke RSUD setempat, namun dalam perjalanan korban menghembuskan napas terakhirnya. Kejadian ini membuat warga setempat gempar, sebab sejumlah warga mendatangi ke lokasi kejadian.
Informasi dari kepolisian, kejadian ini berawal saat korban ke area persawahannya tak jauh dari rumahnya. Korban hendak menyemprot tanaman padi miliknya. Selain membawa alat penyemprotan, korban juga membawa dua botol obat pertanian.
Sesampai di area pertanian, korban lantas mencampur tiga botol obat pertanian tersebut. Dan dituangkan ke dalam tabung alat penyemprotan. Tak lama kemudian, korban mulai menyemprotkan obat pertanian tersebut ke padi miliknya.
Namun, nahasnya korban seketika mengalami pingsan. Kejadian ini pun diketahui oleh sejumlah teman petani yang juga tetangganya yakni Basuni, 45, Tamsir, 44, dan Ngatri, 45. Melihat kondisi korban lemas, sejumlah saksi dan warga setempat membawanya ke salah satu bidan Desa Ngadiluhur Kecamatan Balen.
Karena keadaan tidak memungkinkan, bidan desa menyarankan untuk membawanya ke RSUD setempat. Naas, dalam perjalanan menuju RSUD, korban yang mengenakan kaos putih dan celana pendek abu-abu ini menghembuskan napas terakhir. Akibatnya, korban kembali dibawa ke rumahnya di Desa Ngadiluhur.
''Dugaan kuat, korban petani ini meninggal akibat keracunan menghirup obat pertanian tersebut," kata Kasubag Binamitra Polres Bojonegoro, AKP MT Ariyadi.
Selain itu, kini peralatan penyemprotan diamankan petugas kepolisian sebagai barang bukti. (rij/nas)
Senin, 20 September 2010
Langganan:
Postingan (Atom)